| MuSLiMin juga berasal dari akar kata SLM dengan awalan Mu sebagai kata ganti benda atau orang pertama dengan akhiran in sebagai penunjuk kata jamak. Jadi arti efektifnya adalah Orang yang merasa damai selalu (dalam situasi hati damai). "Tuanku (robbana, my Lord). Jadikanlah kami orang yang merasa damai padaMu dan dari keturunan kami bangsa (umat) yang merasa damai dan tunjukkan pada kami pengorbanannya (Manasik) dan maafkan kami. Engkau pemberi maaf dan Pengasih" Pesan moral yang luhur dari ayat 2:128 adalah : Jika ingin menjadi bangsa yang damai dan sentosa maka diperlukan pengorbanan dari bangsanya sendiri Tetapi pesan yang bagus ini hilang ditelan terjemahan Ulama yang percaya jika mau menjadi negri yang sentosa maka suatu bangsa hendaknya pergi haji ? (lagi-lagi jika kita punya selera humor pasti kita tersenyum karena ini terkesan mengada-ada) sebab Manasik menurut terjemah bebas ulama dalam ayat ini katanya tata cara pergi haji, tetapi anehnya kadang kata NuSuKi diterjemahkan pengorbanan juga (double standard) dan bukan tatacara haji sehingga inkonsisten padahal akar katanya sama. Kali ini untuk SLM ulama menerjemahkan lain lagi yaitu orang yang tunjuk dan patuh PADAHAL kosa kata arab banyak dan untuk tunduk dan patuh kata yang tepat untuk itu adalah sujud dari akar kata SJD. Argumen kami adalah sebagai bangsa (Umat, Nation) yang lebih penting bukanlah bangsa yang patuh. Sebab negara otoriter bangsanya patuh semua, tapi apakah mereka hidup dengan perasaan damai ?. Esensi yang lebih penting dalam suatu kehidupan berbangsa adalah bangsa yang damai. Selain itu dalam hidup berbangsa dan bernegara tentu jika ingin maju memerlukan pengorbanan (Manasik, dari akar kata NSK). Kami ingin bertanya pada para ulama bagaimana hubungan antara kehidupan bangsa dengan pergi menunaikan haji ? Kenapa umat menurut 'terjemah bebas ulama' diartikan sempit sebagai kelompok penganut agama tertentu ?, padahal dalam ayat diatas Ibrahim berdoa untuk bangsanya.bukan kelompok agama sebab pada ayat sebelumnya yaitu 2:126 : "Dan ketika Ibrahim berkata : "ya Tuanku, jadikanlah NEGERI INI (Baladdan) menjadi sentosa dst ....... " Bagaimana sebuah negara akan sentosa jika tidak ada manasik atau pengorbanan dari umatnya (bangsanya) ? ini adalah pertanyaan yang logis. Tetapi apakah logis bahwa negri yang sentosa bisa dicapai dengan jalan orangnya pergi naik haji ? Seandainya iya, bagaimana ka'bah di kota Mekkah yang hanya sepetak dapat melayani sebuah negri yang sentosa dimana seluruh umatnya serentak mau naik haji ? Padahal dengan jumlah sedikit sekarang saja harus dijadwal ? IBRAHIM MENGINGINKAN NEGERI DAMAI BUKAN NEGARA ISLAMIC. Konsep negara islam yang diimpikan kelompok agama islam ternyata menurut cerita Quran sama sekali bukanlah hal yang religius. Tetapi konsekweksi logis yaitu dimana umatnya mau berkorban untuk negerinya maka kedamaian atau harmoni akan tercapai. Terlihat bagaimana konsep yang bagus ini mnjadi hilang dalam terjemah bebas gaya cendikiawan agama islam. Pengorbanan yang dimaksud diceritakan dalam berbagai ayat dalam Quran adalah berupa ajaran bahwa orang yang merasa damai tidak akan menumpuk harta dan memperkaya diri dan haus akan kekuasaan. |
| Perhatian : Isi dari Website ini dibuat dalam kawasan internasional karena itu tunduk pada hukum internasional dan tidak tunduk pada hukum suatu negara tertentu dan tidak ditujukan untuk penduduk negara tertentu |
| Under construction, please refresh |