Tata cara ritual sholat lima waktu yang kita kenal sekarang dan merupakan hal yang
paling penting wajib dilakukan penganut agama islam jika tidak ingin masuk neraka,
ternyata tidak ditemukan dalam Quran. Dan oleh karena itu harus merujuk pada sumber
selain Quran yaitu buku karangan dari Bukhari dan Muslim yang hidup 2 abad setelah
Muhammad wafat.  Kejadian asal mula perintah sholat-pun yaitu Isra Miraj yang
merupakan hal yang paling penting dalam ajaran ulama merupakan kejadian dimana
perintah sholat diberikan pada Muhammad juga sama sekali tidak terekam dalam Quran.  

Kisah yang seolah-olah menyerupai kejadian perjalanan itu dalam Quran adalah kisah
seorang hamba berpindah dari Al-masjidil Al-Harami ke Al-masjidil Al-Aqsa (para ulama
mengatakan dari mesjid Haram di Mekah ke mesjid Aqsa di Palestina) yang terdapat dalam
satu ayat saja yaitu  dalam ayat (17 :1). Jika mau jujur kisah ini  bukan menceritakan
kisah Muhammad melainkan kisah Nabi Musa. Sebab dalam ayat pertama yang merupakan
awal dari surat Al-Isra menceritakan perpindahan seseorang hamba Tuhan dan secara
langsung diterangkan pada ayat kedua (17:2) bahwa hamba tersebut adalah Musa.

Dalam buku-buku hadis sebaliknya kejadian Isra Miraj merupakan cerita yang paling
panjang.  Namun sangat-sangat tidak masuk akal dan tidak berselera sebab terjadi
tawar-menawar antara Tuhan dan Muhammad  seperti  tawar menawar yang biasa terjadi
jika kita berbelanja di pasar-pasar arab. Tawar menawar itu adalah  berapa banyak sholat
harus dilakukan dalam sehari. Tuhan menginginkan 50 kali dalam sehari namun setelah
melalui tawar menawar yang sengit pada akhirnya turun sedikit demi sedikit dengan
bantuan Roh Musa dan Ibrahim dapat ditawar hingga hanya 5 kali sehari saja . Belum lagi
cerita bahwa Muhammad Naik ke kerajaan Allah dengan menggunakan sejenis binatang
bernama Bouraq sangatlah mengada-ada. Dan satupun tak ada keterangan mengenai ini
semua dalam Quran. Jika seseorang menggunakan nalar dan ingin mempercayai Quran
secara penuh tentu akan menilai bahwa kisah itu adalah bohong semata. Ada diantaranya
yang marah dengan cerita tawar-menawar ini dilihat dari sisi Muhammad yang dianggap
bodoh karena harus terus-menerus dinasihati Musa yang menyuruhnya balik lagi ke
hadapan Allah karena perintahnya terlalu berat. Cobalah kita pikir lebih mendalam lagi
apakah patut kita membeli cerita seperti ini ?

Esensi dari kejadian Isra Miraj dalam Quran sebetulnya adalah pelajaran moral bagi
manusia yang diambil dari kisah kehidupan  Musa dimana ia melalui suatu proses atau
berpindah dari keadaan Al-masjidil Al-harami atau patuh (masjidil = patuh dari akar kata
sujud) hanya karena adanya larangan (haram=larangan) ke keadaan dimana ia mencapai
level yang lebih jauh (aqsa=jauh).  Pesan yang sangat dalam maknanya ini dan menuntut
intelektualitas dan perenungan oleh para ulama dirubah dengan mengatakan mesjid haram
itu dekat dan mesjid aqsa jauh sebab adanya di Palestina ? suatu anggapan yang dapat
membuat geli dan sama sekali sekali tidak mengandung pesan moral. Analogi dari
Al-Masjidil Al-harami adalah patuh karena adanya perangkat hukum seperti pengemudi
yang tidak berani melanggar lampu merah karena ia melihat polisi. Ini adalah bentuk
kepatuhan dasar. Selanjutnya Al-masjidi Al-Aqsa adalah bentuk yang lebih jauh dari
kepatuhan yaitu kesadaran diri sendiri untuk tidak melanggar hukum walaupun ia tidak
meihat polisi berdiri.

Seperti kita tahu dalam Quran juga bahwa Musa pernah membunuh orang dengan alasan
yang tidak tepat. Karena ia dendam demi melihat seseorang dari sukunya dibunuh suku
lain dan ia pikir tak ada yang melihatnya.  Kejadian ini mempengaruhi secara moral dan
mental Musa pada malam-malam setelah kejadian itu dan Ia ingin bertobat dan
bertanggung jawab. Inilah pesan moral yang berusaha diceritakan Quran dalam ayat
tentang Isra Miraj itu.

Lantas apa makna kata Shola yang terdapat dalam Quran ?

Dalam membaca satu ayat dalam Quran harus dipahami konteks thema ceritanya sehingga
ayat-ayat disekitarnya harus juga dibaca. Tidak dapat sepotong-sepotong. Selain itu seperti
halnya setiap kata normalnya selalu punya arti yang sama atau konsisten atau padan.
Suatu kata berfungsi untuk menerangkan tergantung dari konteks cerita yang dimaksud
didalamnya. Itulah sebabnya kata Shola ini dalam Quran dipakai untuk menerangkan
berbagai masalah atau thema. Tetapi anehnya walaupun kata shola sering dipakai
menjelaskan suatu masalah secara detail untuk berbagai masalah seperti perjanjian,
hubungan etika keluarga, kawin-cerai dan lain-lain. Tidak satupun yang menjelaskan
tentang ritual sholat lima waktu seperti jumlah rakaat dan bacaan dalam sholat. Padahal
sholat dalam dunia islam adalah hidup matinya agama. Kenapa hal yang penting ini tidak
ada ?
Selain itu kata shola sering dipakai jauh ke belakang sebelum masa Muhammad dimana
perintah sholat 5 waktu itu terjadi. Shola dalam Quran dikaitkan dengan Zakaria, dengan
Shuaib dengan Maryam dan dengan bayi Isa. Apakah nabi Isa yang masih bayi sudah bisa
melakukan  ritual sholat ? Lebih hebat lagi sholat juga dikaitkan dengan orang kafir. Jadi
pastilah bahwa kata shola yang dimaksud dalam Quran bukanlah ritual sholat.

Pengucapan sholat yang biasa kita dengar sehari-hari sebetulnya tidak ada dalam Quran
melainkan diucapkan shola (tanpa t). Dalam Quran kata ini sebagaimana kata lain sering
mendapat awalan dan akhiran. Dengan awalan 'yu' menjadi 'yusholi' atau 'yushola' dan
'yusholu' dengan awalan 'ya' menjadi 'yashiluna' dan dengan akhiran 'ta' atau 'ti' menjadi
'sholata' atau 'sholati'. Dengan awalan 'mu' menjadi musholin (jamak) atau musholan
(tunggal).

Ada dua pendapat akar kata shola berasal yaitu Shod-Lam (SL) dan Shod-Lam-Wa (SLW).
Marilah kita lihat argumen-argumen bahwa tidak mungkin shola itu artinya ritual sholat.

1. Bentuk kata "yusholi" dalam dua ayat 33:43 dan 3:39 ulama mengatakan bahwa Zakaria
yusoli atau melakukan ritual solat. Tapi pada ayat lain bentuk yang sama yusoli
mengatakan bahwa Tuhan dan malikat juga yusoli pada orang yang beriman. Dari sini jelas
bahwa Tuhan dan Malaikat tidak mungkin melakukan ritual solat. Dan juga bagaimana
mungkin dua bentuk kata turunan yang sama mempunyai arti yang berbeda. Padanan kata
yang tepat untuk itu adalah komitmen atau hubungan erat. Jadi Zakaria bukan
melakukan ritual sholat tetapi ia mempunyai komitmen. Dan Tuhan beserta malaikat juga
tentu punya komitmen terhadap orang yang beriman (percaya). Komitmen Tuhan yang
paling jelas adalah dibuatnya sorga sebagai imbalan bagi orang yang percaya dan bekerja
keras dalam jalan Tuhan.

2. Bentuk kata "Sholu" dalam ayat 33:56 tidak mungkin berisi perintah bahwa orang
beriman harus melakukan sholat pada Muhammad. Melainkan perintah bahwa orang
beriman harus punya komitmen pada Muhammad. Sebagai mana Muhammad juga harus
punya komitmen pada orang yang percaya. Ulama menerjemahkan lain lagi untuk kata
sholu ini yaitu menghormati. Terlihat jelas penyalahan arti oleh para ulama ini dimana
mestinya satu kata yang sama umumnya mempunyai makna yang sama namun dapat
menerangkan situasi yang berbeda-beda. Para ulama jelas telah menyalahi tata bahasa dan
meng-klaim bahwa hanya merekalah yang menguasai bahasa Quran.

3. Sebagai contoh lain misalnya dengan awalan 'Mu' yang menerangkan subjek pelaku,
seperti muslimin (=orang jamak yang islam, dan bentuk tunggalnya adalah musliman),
muhlisin (=orang jamak yang hasan/baik), mukminin (=orang percaya) dan mukminat.
Tetapi anehnya kata awalan 'mu' dengan 'shola' atau mushola menjadi kata 'keterangan
tempat' orang melakukan sholat. Padahal sesuai kaidah tatabahasa mestinya orang yang
mempunyai sifat shola (mempunyai komitmen) seperti contoh-contoh diatas. Hal ini
dilakukan ulama untuk memberikan kesan bahwa tempat sholat itu yang pertama adanya
di tanah Mekkah pada jaman Nabi Ibrahim sebab dalam Quran ada kata 'Ibrahima
Musholan' (2:125) yang arti sebenarnya adalah Ibrahim orang yang mempunyai komitmen.
Padahal Ibrahim menurut Quran tidak pernah pergi ke tanah arab sebab ada ayat yang
mengatakan bahwa belum pernah ada utusan lain ke tanah arab selain Muhammad. Hal
yang sangat luar biasa dari ulama adalah bentuk jamak dari Musholan yaitu Musholin pada
70:22, 74:43, 107:4 tidak diterjemahkan sebagai 'tempat' dari orang-orang yang sholat
melainkan kembali tunduk pada kaidah tata bahasa yaitu musholin sebagai orang jamak
bukan tempat ? alangkah absurd, aneh dan tidak konsisten

3. Sholaatuka dalam 11:87 menceritakan bahwa dengan sholatnya Shuaib ingin merubah
kecurangan berdagang pada masyarakat secara turun temurun ditandai dengan pengakuan
masyarakat yang mengaku mencontoh dari tindakan orang tua mereka, tentu bukan
dengan ritual sholat yang dimaksud karena kita tahu untuk berubah menjadi jujur
memerlukan komitmen dan bukan dengan rajin melakukan ritual sholat. Untuk menjadi
orang yang jujur tentu mutlak selalu butuh yang namanya komitmen (shola) tetapi tidak
mutlak harus rajin sholat ke mesjid bukan ? Dari cerita Shuaib in sangat jelas bahwa kata
shola mempunyai makna komitmen dalam hal konteks kejujuran dalam berbisnis.

4. Sholatahu dalam ayat 24:41 juga dipakai untuk menerangkan burung yang terbang.
Banyak dari orang islam yang percaya bahwa burung juga sholat dan ber-tasbih pada Allah
dengan cara mereka sendiri yang melahirkan kesan mistis. Cerita mistis seperti ini sangat
disukai orang awam. Padahal kalau mereka berhenti nonton sinetron Hidayah dan beralih
ke Discovery Channel atau National Geographic mereka akan tahu tentang migrasi burung
yang mencakup ratusan ribu kilometer. Kita sebagai manusia merasa rendah dan
terpesona dengan semangat burung-burung ini dalam menjalani kehidupannya yang harus
melampaui samudra dengan tenaganya sendiri dan selalu konsisten menjaga barisan
berbentuk V ketika mereka terbang. Maka Quran benar sekali dalam hal ini bahwa
burung mempunyai shola-nya sendiri atau komitmen penuh pada hidup yang telah
digariskan Tuhan. Jika kita mau belajar dari keterangan Quran mengenai semacam
komitmen dari burung itu maka ini mempunyai pesan moral yang sangat dalam yaitu
jalani hidup kita sebagai manusia yang penuh dengan hidup dalam kebersamaan dan
kehidupan. Dan disepanjang jalan yang kadang sedih dan bahagia kita meng-apresiasi  
dalam kerendahan hati dan memuji ciptaan Tuhan dalam bathin kita yang dalam, setiap
detik dalam helaan nafas dan detak jantung. Seperti burung-burung yang terbang itu.
Sama sekali jauh dari kesan ritual dan mistis. Tidak ada bacaan-bacaan yang diulang-ulang
dalam bahasa yang kita tidak mengerti, tidak ada gerakan-gerakan yang diulang-ulang
melainkan pujian yang dinamis tergantung kondisi dan situasi yang kita temukan
sehari-hari. Itulah sebabnya Tuhan mempunyai 99 sebutan baik (Al-Asmaul Husna) agar
kita bisa memilih dan menyebutnya dengan pelan penuh kerendahan disesuaikan dengan
atmosfir yang kita hadapi. Setiap hari kita seolah akan menemukan pelajaran baru untuk
memuji Tuhan seperti halnya burung terbang menemukan pemandangan baru dan tidak
ada nama-nama lain disebut selain Tuhan. Tidak perlu selalu mengarah pada suatu arah
tertentu ketika memuji Tuhan sebab semua arah adalah milikNya jua dan Dia dekat.
Sungguh sama sekali ia tidak perlu dikunjungi disuatu tempat tertentu di dunia ini. Dia
ada dimanapun kita berada. Salah besar mengira Allah yang mereka sembah adalah Tuhan
di Ka'bah Baitullah sehingga mejadi arah kiblat. Bangunan itu akan hancur suatu saat
beserta bangunan-bangunan lain. Tetapi Tuhan yang sebenarnya adalah ada setelah bumi
hancur sekalipun.

5.  Shola-tihim dalam ayat 6:92, 23:2, 70:23, 70:34 dinyatakan oleh ulama seolah-olah
bahwa orang yang menunaikan sholat lima waktu selalu dapat dipercaya. Jika saya tanya
pada anda apakah anda akan mempercayai seseorang itu karena ia rajin sholat atau
karena komitmen dalam konteks mentalitas kejujuran seseorang ? Jelas anda akan
memilih yang kedua.  

6. Shola-tuhum pada ayat 8:35 dinyatakan sebagai sholatnya orang kafir sebagai  
pembangkangan padahal sehari-hari para ulama selalu positif dalam hal sholat 5 waktu dan
selalu memerintahkan untuk dilakukan selalu apapun yang terjadi walaupun kamu tidak
mengerti bahasa arab. Tetapi didalam Quran ada sholat yang negatif yaitu orang yang
sholat tapi untuk membangkang Tuhan yang mereka sembah ?.  Pernahkan anda
mendengar ada orang diluar agama islam yang sholat tapi tujuannya untuk membangkang
Allah seperti yang diterjemahkan ulama dalam ayat tersebut ?.   Ini terasa janggal dan
akan tetapi kesulitan logika seperti ini tidak ada bila yang dimaksud itu sebetulnya adalah
komitmen. Bahwa kita tahu secara wajar akan adanya banyak orang yang selalu punya
komitmen untuk selalu membangkang Tuhan. Jadi memang wajar betul bahwa komitmen
atau shola hanyalah merupakan suatu kata yang dapat menerangkan tindakan yang baik
dan dapat pula sesuatu yang buruk tergantung dari konteks cerita.  Anggapan yang
mengatakan ada orang yang suka berpura-pura sholat hanya untuk mendapat pujian
adalah anggapan diluar konteks ayat itu sebab orang yang dimaksud dalam konteks cerita
adalah orang diluar islam, ini sangat jelas karena hampir mustahil ada pendeta kristen
misalnya, yang melakukan sholat pura-pura karena takut. Bukankah Quran melarang
pemaksaan ?

Teori bahwa memang ada orang beragama islam yang sholatnya pura-pura saja juga tetap
mempunyai kesulitan logika sebab jika kita lihat dari ajaran Hadis bahwa anak 7 tahun
saja dianjurkan untuk dipukul jika tidak menunaikan sholat. Artinya ada kemungkinan
besar anak tersebut akan melakukan sholat tapi sekedar pura-pura saja yang menurut
8:35 diancam Tuhan untuk merasakan hukuman neraka. Bahkan dalam ayat lain
(Al-Maun 4-5) dikatakan "Celakalah bagi orang yang sholat, tapi lalai dalam sholatnya"
Jadi orang itu sudah melakukan sholat tapi ia lalai atau tidak khusyu dalam shalatnya,
baginya adalah api neraka. Ayat ini sungguh sangat tegas bahwa orang yang sholat pun
celaka ! yang artinya hampir seluruh orang beragama islam akan masuk neraka sebab
jarang orang islam yang sholatnya khusyu. Jika ada yang beralasan ini hanya bagi orang
yang shlat tapi tidak mau menolong orang miskin dan suka pamrih maka kalau begitu
sholat itu tidak penting sebab menolong orang miskinlah yang lebih penting karena dapat
mengugurkan sholat dan tidak ada ayat yang menggurkan pahala dari menolong orang
miskin hanya karena ia tidak sholat. Kemudian tidak ada pula satupun ayat yang
mengatakan "Celakalah bagi orang yang baik hati dan suka menolong orang miskin",
Tetapi justru orang sholatlah yang celaka ! ini menandakan posisi mana yang lebih penting.
Dan jika yang dimaksud khusyu maka dilihat secara
psychology salah satu elemen dari
khusyu adalah konsentrasi  yang merupakan hal sangat sulit sehingga orang percaya
hanya para wali dan alim ulama saja yang dapat mencapai kekhusyuan sehingga waktu saja
katanya seolah berhenti dan badan melayang yang pada akhirnya masuk dalam trans dan
mencapai puncak kenikmatan. Jika memang benar ini yang dimaksud Tuhan kenapa hal
yang sangat sulit ini dan tingkat keberhasilannya sangat sedikit dihukum sangat berat pula
? Apakah benar-benar Tuhan sangat kejam ? Sudah capek-capek sholat tapi karena susah
konsentrasi (maklum karena alasan yang sangat manusiawi seperti kepikiran hutang dan
harga-harga naik terus) dan tidak khusyu maka kita masuk neraka pula ? Saudaraku
ketahuilah hanyalah setan yang akan berkehendak dan sekejam itu.
Meditasi seperti halnya ritual sholat dengan harapan bertemu dengan sang pencipta
hanyalah merupakan ajaran yang dibawa dari agama  Hindu lihat web site ini
http://dharana.info/ maka anda akan menemukan kesamaan dengan ajaran para ulama
tentang khusyu.

Ajaran dalam Quran sangat sederhana dan mudah itulah sebabnya pantas orang yang
melanggar patut di hukum di panasnya api neraka karena sangatlah gampang dan
pelanggaran akan dilakukan oleh seorang pembangkang. Apakah anda seorang
pembangkang ? Kembali pada ayat 8:35 diterangkan bahwa pembangkang yang dimaksud
ada dalam 8:36 yaitu orang yang mempunyai komitmen sehingga ia membelanjakan
uangnya untuk memutar dan menipu orang lain melanggar aturan Tuhan dalam hal syirik.
 Contoh real saat ini dari orang seperti ini adalah para pembesar arab Quraish beserta para
ulamanya yang telah merubah ajaran Quran dengan dengan buku-buku hadis yang
meng-atas namakan sunnah menjadi ajaran agama yang penuh dengan ritual keagamaan
yang mengarah pada tanah air mereka dan tuhan mereka. Padahal Quran untuk seluruh
manusia dan kemanusiaaan adapun Tuhan dalam Quran tidak dapat diasosiasikan seperti
itu. Contoh yang lain seperti  Quran sebutkan adalah para ahli agama kristen yang
membuat kebohongan dengan cerita Tuhan dalam wujud manusia dan membuat kerajaan
tiran.


7. Kita kembali ke surat 107 yaitu surat Al-Ma'un yang secara mudah dapat meng-
expose
atau membuka tabir lebih jelas bahwa sholat  tidak mungkin sebagai istilah untuk ritual
sholat. Banyak orang yang hafal surat ini karena pendek tujuh ayat sehingga sering dibaca
pada setiap sholat termasuk saya ketika masih percaya begitu saja. Kata yang disebut
dalam ayat ini adalah 'musholin' yang merupakan bentuk jamak dan biasa diterjemahkan
sebagai 'orang-orang yang mendirikan sholat'. Bentuk tunggalnya adalah 'musholan'
namun anehnya tidak diterjemahkan sebagai 'seorang yang sholat' melainkan  
diterjemahkan sebagai 'tempat' sholat Ibrahim. Kecurangan ini jelas dan untuk menyiasati
agar memberi kesan berbeda dari aturan maka dalam keseharian mereka menyebut
Mushola (dengan tidak menggunakan akhiran n). Sekarang bersiaplah membuka pikiran
anda dan temukan !

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan dien ? (1)
Itulah orang yang menghardik anak yatim, (2)
dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (3)
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (4)
(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, (5)
orang-orang yang berbuat riya  (6)
dan enggan (menolong dengan) barang berguna  (7)

Kejanggalan-kejanggalan logika :

a.  Menyalahi hukum mereka sendiri bahwa katanya sholat jika tidak dilakukan
membatalkan semua amalan lain dan sebagai tiang agama dengan  posisi kedua dalam
rukun padahal dalam surat diatas jelas sholat membuat celaka jika tidak menolong
sesama. Artinya menolonglah yang paling penting sebab tidak ada ayat yang berbunyi :
kecelakaan bagi orang yang suka menolong orang miskin dan menyayangi anak yatim ?

b.  Katakan jika memang benar ada orang yang riya ketika dia sholat maka menurut ayat
diatas dia akan celaka dan semua pasti setuju. Tetapi bagaimana jika ada orang yang
menolong orang miskin karena ia riya ? apakah ada ayat yang mengatakan dia akan
celaka juga ? tidak ada, paling nilai pahalanya yang agak berkurang tetapi tidak sampai
membuatnya celaka. Lagi-lagi terbukti bahwa menolong orang jauh lebih penting dari
sholat. Dalam Quran memberi sedekah secara terlihat atau terbuka didepan umum tidak
dilarang namun apabila dilakukan secara diam-diam lebih baik.

c. Konteks cerita dalam surat diatas menjadi kacau karena ada dua thema berbeda dalam
kalimat yang pendek yaitu menolong dan ritual sholat. Tetapi seluruh kata penghubung
menandakan satu thema yaitu komitmen menolong orang yang membutuhkan. Coba lihat
perpindahan yang sangat terasa dari ayat 3 ke ayat 4 diatas.  

Terlepas dari semuanya bagaimanakah terjemah yang logis dan mendekati kebenaran dari
surat diatas adalah sebagai berikut :

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan dien ? (1)
Itulah orang yang menghardik anak yatim, (2)
dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (3)
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang ber-komitmen (berjanji), (4)
(yaitu) orang-orang yang lalai dari janjinya, (5)
orang-orang yang berbuat riya  (6)
dan enggan (menolong dengan) barang berguna  (7)

Coba renungkan terjemah diatas dan saya pikir tidak ada kesalahan logika karena
memang saya hanya menerjemahkan bukan menafsirkan atau membuat intrepetasi. Jika
anda membuka kamus kata komitmen erat kaitannya dengan janji. Kemudian maksud
dari ayat cocok dengan kenyataan banyaknya orang yang hanya mengumbar janji
(termasuk saya kadang-kadang) hanya untuk dipercaya tetapi komitmen yang dijanjikan
tidak jua dilaksanakan, maka pantaslah saya akan celaka. Quran dalam berbagai ayat
memberi porsi ancaman terhadap para pemimpin yang korup dalam konteks ayat diatas
terutama janji-janji komitmen dari sebagian politikus  yang saat sebelum pemilihan
terlihat riya. Merela lalai dengan komitmen yang pernah dijanjikan. Mereka tidak takut
lagi menebar janji-janji kosong karena toh bagi mereka yang penting sudah menunaikan
shalat 5 waktu sebab dari ajaran para ulama ketika kamu mati yang pertama diperikasa
adalah sholatnya, soal melanggar janji itu biasa.  Terlihat ini sangat bertentangan dengan
surat Al-Ma'un dan mereka lebih mempercayai apa kata ulama daripada kata Quran.
Sehingga kuat dugaan saya sholat 5 waktu hanyalah teknik musuh Tuhan untuk
menyamarkan tujuan murni Al-Quran. Mereka telah berhasil karena memang ritual
sholat terlihat begitu khidmat dan cocok dengan pola pikir tradisional yang telah lama
dalam hal meditasi, pensucian diri, daya mistis, sakral dan persembahan. Sebaliknya ajaran
Quran lebih sensible modern dan pragmatis dan dekat kearah usaha, keringat dan kerja
keras untuk kemanusiaan dan konservasi alam sebagai pencapaian kesucian diri di jalan
Tuhan dan mengajarkan bahwa keluarnya harta, usaha dan segala pengorbanan  adalah hal
yang utama dibandingkan dengan menjauhkan diri dari permasalahan kehidupan
kemanusiaan dan tenggelam dalam acara ritual dan buaian mimpi kekhusyuan. Quran
mengajarkan pelayanaan atau service terhadap kenyataan kehidupan disekitar dan bukan
ritual ibadah sesembahan. Karena sebetulnya penting diketahui  'ibadah' dari akar kata
a'bdi (Ain-Ba-Da) dalam Quran seperti kata 'abdihi' dalam 17:1 sepakat diartikan hamba,
pelayan atau
servant dan bukan penyembah ritual. Seorang pelayan logisnya bekerja
menghasilkan sesuatu sedangkan kita tahu dalam acara ritual seperti sholat tidak ada
kerja yang dihasilkan kaena hanya menyembah-nyembah. Siapapun pasti tidak mau punya
pelayan yang kerjanya hanya hormat-hormatan membungkuk dan bersujud saja didepan
anda tanpa kerja yang nyata. Majikan mana yang tidak bosan dengan pelayan seperti ini ?.
Apakah anda pikir Tuhan mau orang yang seperti ini ? Malahan kita tahu justru hanya
tuhan-tuhanan sesembahan manusia yang suka disembah-sembah semacam itu bukan ?
Jadi ibadah pada Tuhan bukan berarti menyembah secara ritual tetapi mengabdi (sebagai
hamba), melayani (serve) perintah atau titah Tuhan. Surat Al-maun adalah salah satu
contoh perintah itu dimana kita harus memenuhi komitmen terhadap anak yatim dan
orang miskin dan menolong orang yang memerlukan. Sesederhana itu saja.
Apakah ada kata sholat dalam Quran ?
KEDAMAIAN.ORG
Perhatian : Isi dari Website ini dibuat dalam kawasan internasional
karena itu tunduk pada hukum internasional dan tidak tunduk pada
hukum suatu negara tertentu dan tidak ditujukan untuk penduduk
negara tertentu
Under construction, please refresh