| Jika ada suatu dokumen yang merupakan sumber otentik (dalam hal ini Quran) yang ternyata menentang semua agama termasuk kelompok islam sendiri dan Atheisme berarti didalamnya terdapat suatu anomali. Bisa jadi itu suatu kebenaran ataupun suatu kebohongan. Tetapi bagaimana jika didalamnya terdapat nilai dan keterangan yang jauh melebihi apa-apa yang terdapat dalam agama baik secara moral, akal sehat (keilmuan) dan harmoni ? Apakah kita patut melewatkan informasi ini ? Apakah kita patut untuk tidak percaya ? Adakah justru ini merupakan suatu kebenaran yang kita cari selama ini ?. Namun kami akan menyerahkan sepenuhnya pada penilaian anda sebab hidup semata-mata adalah membuat keputusan-keputusan. Tak ada paksaan dalam Jalan Tuhan. Penilaian yang murni sangat diperlukan jika anda ingin menggapai pesan dari Tuhan. Contoh ayat Quran yang paling penting karena sering disalah artikan adalah : “Ina dien-na inda-lahi I’la islamu” (3:19) Wahyu diatas di mengerti dan dimaknai oleh para peminpin gerakan islam dan dipercayai oleh hampir seluruh kelompok agama islam dengan terjemahan sebagai berikut : “Sesungguhnya agama yang di-ridhai Allah adalah agama islam” Anda dapat membayangkan implikasi yang sangat kuat terhadap sejarah kemanusiaan yang telah kita alami sekarang oleh karena terjemah diatas dan tak ada seorangpun yang mau memeriksa apa yang mereka dengar. Menjadikan orang mau dijadikan martir dan berani mati untuk suatu terjemahan yang kurang tepat diatas. Dan dilain pihak banyak orang diluar kelompok islam yang dengan ke-fanatik-an yang sama menentang dan mengorbankan segalanya karena merasa bahwa islam adalah kelompok yang mengancam kelompoknya. Dan seringkali dengan alasan Tuhan pula. Permusuhanpun dengan mudah terjadi, hingga hari ini. APA YANG SALAH ? Mari kita terjemahkan kalimat Arabic diatas bukan secara pemaknaan yang diberikan oleh para peminpin kelompok islam itu, melainkan dari arti teksnya saja dimana kata islam artinya damai** dan merupakan harapan yang sering dikatakan orang "AsSaLaMu-alaikum ..." atau "Damai besertamu". Ina = Sungguh Dien-na = jalan hidup* Inda-llahi = menurut Tuhan I’la = pada Islam-tu = kedamaian** "Sungguh jalan hidup menurut Tuhan pada kedamaian" Kalaupun perbedaannya seperti sepele tapi sekarang coba anda bayangkan implikasi apa yang mungkin akan terjadi jika kita jujur pada penerjemahan diatas ? Apakah orang masih meributkan agama ? tentu tidak akan, nah inilah satu contoh tipuan setan menggagalkan perdamaian. Kemudian coba beri penilaian secara jujur apakah terjemah diatas mempunyai moral yang lebih baik dibanding dengan pemaknaan para elit agama islam ? Jelas ada intensi atau maksud khusus dalam pemaknaan 3:19 karena mereka tidak menerjemahkan islam yang hanya merupakan kata yang berarti damai. Tujuan musuh Tuhan yaitu untuk membentuk kata islam menjadi kelompok tertentu atau gerakan tertentu dengan memanfaatkan spirit orang pada agama dan membawanya pada level yang mereka inginkan. *Dien atau sering secara sempit diterjemahkan agama mempunyai arti yang asal yang sangat mendasar yaitu jalan hidup (way of life). **Islam atau Salam kurang tepat diartikan 'selamat' sebab kata untuk itu dalam arabic adalah Aman. Seringkali Islam juga diterjemahkan sebagai berserah diri, ini juga tidak tepat sebab ada kata yang lebih tepat yaitu SJD (sujud) dan kata SLM yang berarti 'damai' atau 'peace' merupakan kata yang dapat berdiri sendiri dan tidak bersifat ambigu dan selalu kearah yang positif dan jelas. Tetapi ungkapan atau istilah 'orang yang berserah diri' tidak dapat berdiri sendiri sebab ia memerlukan penjelasan dan bersifat ambigu. Orang bisa saja mengatakan menyerahkan diri pada Tuhan tetapi apakah dia damai ? Tetapi orang yang damai dalam Tuhan sudah barang tentu dia pasti menyerahkan diri pada Tuhan. Tidak hanya itu, semua aspek yang baik dan positif juga tercakup didalam damai termasuk keselamatan, kesejahteraan, keamananan dst.. Kita bisa memaksa orang untuk menyerahkan diri tetapi damai bukan sesuatu yang dapat dipaksakan. Bahkan Tuhan sekalipun tidak dapat memaksakan kedamaian pada hati seseorang walaupun Dia bisa memaksa orang untuk menyerahkan diri. Itulah sebabnya inti dari pernyataan Tuhan bahwa tak ada paksaan dalam arah atau jalan hidup manusia.
|
| Perhatian : Isi dari Website ini dibuat dalam kawasan internasional karena itu tunduk pada hukum internasional dan tidak tunduk pada hukum suatu negara tertentu dan tidak ditujukan untuk penduduk negara tertentu |
| Under construction, please refresh |